Membangun Indonesia dan Membangun Daerah dalam Kerangka Kesemestaan dan Kemanusiaan sesuai dengan Kodrat dan Irama Alam

Oleh : Goenadi Malang Joedo

Pembangunan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau yang juga disebut sebagai wilayah Kepulauan Nusantara, tentu akan berbeda dalam perihal konsepsi, sistem dan penyelenggaraannya, dibanding dengan pembangunan di negara-negara lain. Mengapa berbeda, tentu saja karena wilayah Kepulauan Nusantara mengandung dan dikenai oleh adanya nilai-nilai kesemestaan, kemanusiaan serta nilai-nilai kodrati dan irama alam yang berbeda dari wilayah negara lain.

Pembangunan wilayah kepulauan Nusantara ini juga akan pasti berbeda dengan pembangunan yang diselenggarakan di atas wilayah yang berbentuk kontinen atau benua. Maka pola pembangunan di Indonesia tidak dapat semata-mata dengan cara replikatif, mencontoh pembangunan di negara-negara lain, melainkan merupakan pembangunan yang mempunyai ciri khas ke-Indonesia-an dalam berbagai aspek kesemestaan dan alamiah, aspek kemanusiaan, aspek ruang dan sektor serta wilayah dengan berbagai aset dan kekayaan alamnya.

Wilayah Kepulauan Nusantara merupakan hamparan lautan luas yang didalamnya terdapat sekitar 18.000 pulau-pulau besar dan kecil yang tersebar di garis katulistiwa, dan dipersatukan oleh lautan baik lautan yang merupakan perairan pedalaman, perairan luar dan perairan internasional. Lautan di wilayah ini merupakan satu kesatuan kontinum yang tidak terpisahkan dari lautan dan samudera di sekitarnya. Dengan demikian orientasi pembangunan wilayah Kepulauan Nusantara didudukkan dan didasarkan pada pembangunan kepulauan dan kelautan sebagai satu kesatuan utuh.

Panca Sila adalah intisari budaya Nusantara

Kesemestaan dan kemanusiaan merupakan suatu kesatuan utuh dan integral, karena proses dialogis yang terus menerus antara manusia dengan alam semesta melahirkan kebudayaan dan peradaban. Pemahaman tentang kesemestaan sangat menentukan terhadap falsafah dan pandangan hidup manusia tentang kemusiaannya. Demikian juga terhadap manusia Indonesia dalam hidup berkebudayaan dan berperadaban, dengan puncak nilai peradaban yang terwujud dengan hadirnya Panca Sila sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia pada tanggal 1 Juni 1945, yang digali dan diungkapkan oleh Ir Soekarno melalui perenungan yang mendalam yang disertai doa permohonan tuntunan Sang Khalik, Tuhan Yang Maha Suci.

Lahirlah respons indah yang muncul dari Sang Hati Nurani Bangsa Indonesia dalam wujud rumusan nilai peradaban baru bangsa Indonesia yang disebut Panca Sila, sebagai wujud perlawanan terhadap sistem penjajahan yang dalam segala bentuk dan perwujudannya menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan manusia dimanapun secara lahir dan batin. Panca Sila mampu dan kamot dalam mengakomodasi keanekaragaman, persatuan dan kesatuan, kesejahteraan dan keadilan, pergaulan internasional serta berbagai macam kepercayaan dan religiositas yang dianut oleh bangsa Indonesia.

Kerangka kesemestaan dan kemanusiaan

Dialog antara manusia Indonesia dengan alam semesta dan alam lingkungan hidupnya, menghasilkan rumusan tentang kesatuan utuh dan lengkap dimana budaya bangsa Indonesia merupakan hal yang identik atau serupa dengan keberadaan alam semesta.

Lebih jauh lagi merupakan pengejawantahan atau penjelmaan segala sifat, watak, karakter, corak, sikap, perilaku serta sistem, hukum dan norma alam. Pandangan budaya dan peradaban manusia Indonesia juga merupakan penjelmaan dan pengejawantahan totalitas alam sekeliling baik yang berujud benda, tumbuh-tumbuhan, makhluk hidup, renik-renik, benda-benda immaterial, makhluk dan benda gaib serta simbol dan isyarat alam.

Kebudayaan dan peradaban dalam wujud wawasan atau inspirasi merupakan pernyataan bahwa alam semesta seisinya itu utuh, lengkap, sempurna dan sistemik, demikian juga manusia Indonesia yang menyatakan bahwa dirinya tercipta dari unsur-unsur alam semesta yang menampakkan diri dalam wujud material fisikal dan immaterial gaib, yang kasat mata dan yang tidak kasat mata.

Dalam ungkapan fisik, pandangan budaya ini tidak mengingkari adanya dan berfungsinya hukum alam dan hukum Illahi, dimana alam alam fisik tidak akan dapat terlepas dari hukum alam dan hukum Illahi serta menghadirkan hukum dan norma sejarah kemanusiaan yang berlangsung dan berbentuk siklus spiral kehidupan yang tiada hentinya hingga akhir jaman. Wujud fisik ini secara dinamis tumbuh dan berkembang mengikuti ketentuan, norma dan etika keselarasan semesta.

Sedangkan wujud fungsional kebudayaan dan peradaban adalah berdasarkan ilmu pengetahuan, rasio atau nalar, intuisi atau naluri, rasa, emosi, batin dan daya-daya insani dan indrawi lainnya, yang ditampilkan secara jujur, wajar, luwes dan sederhana.

Pijakan ini yang pada tingkat penemuan peradaban bangsa Indonesia dapat mewujudkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bebas dan merdeka, berdaulat, mandiri, bermartabat, sederajat dengan bangsa lain, religius serta dihormati dan diperhitungkan dalam pergaulan antar bangsa-bangsa. Dari keseluruhan hal-hal diatas, maka bangsa Indonesia akan dapat tampil dengan corak, ciri, keunikan dan kepribadian yang khas, berbeda dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Keunikan ini adalah modal dasar bagi berbagai kegiatan dalam aspek ideologi, budaya, sosial, politik, ekonomi, hukum, ketahanan dan keamanan dalam menghadapi ofensif globalisasi yang menginginkan adanya sistemasi, formatisasi, normalisasi yang bersifat standar dan uniformal atau keseragaman dengan ukuran-ukuran kepentingan global.

Nilai kodrati dan irama alam

Ciri khas dari wilayah Kepulauan Nusantara dikategorikan dalam nilai kodrati dan irama alam, adalah suatu kondisi yang relatif konstan dan kontinyu, yang berlangsung di wilayah Kepulauan Nusantara, alam sekitarnya, alam lingkungan di dalam wilayah dan bahkan dalam putaran kehidupan alam semesta. Kondisi ini mempengaruhi secara terus-menerus terhadap kehidupan dan penghidupan manusia Indonesia sepanjang masa. Nilai-nilai tersebut adalah :

  1. Nilai-nilai kodrati, adalah suatu kepastian alamiah yang antara lain adalah posisi dan kedudukan wilayah Kepulauan Nusantara yang relatif konstan yaitu merupakan wilayah tropis yang berada diantara dua hamparan benua dan tiga samudera besar, dengan bentuk daratan yang berupa pulau-pulau besar dan kecil serta berada di wilayah keberadaan tiga lempeng bumi dan ratusan gunung berapi, yang di satu sisi menyebabkan hadirnya berbagai kekayaan sumberdaya alam kelautan dan kebumian yang melimpah, tetapi di sisi lain berpotensi sangat akrab untuk menghadirkan berbagai bentuk bencana alam yang berkapasitas kecil maupun besar.
  2. Nilai kodrati ini berada di luar jangkauan manusia untuk mengelola dan merubahnya, karena keadaan seperti ini merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia, sebagai ruang hidup, ruang kehidupan dan ruang penghidupan bagi bangsa dan rakyat Indonesia. Ruang hidup ini berada dalam sistem kesemestaan jagad raya, dimana wilayah Nusantara merupakan bagian yang sangat kecil dari sistem semesta tersebut. Kedudukan wilayah Nusantara ini juga sangat dipengaruhi oleh berfungsinya sistem kosmik, dimana wilayah ini merupakan sebidang wilayah yang sangat kecil, ibarat sebutir debu yang berada dalam hamparan alam semesta yang sedemikian besar dan luas. Wilayah Nusantara tidak akan pernah terlepas dari sistem manajemen alam semesta yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Secara kultural, religiositas dan spiritualitasnya manusia Indonesia sadar dan yakin bahwa hidup, kehidupan dan penghidupannya berada dalam kewenangan dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa serta meyakini dan mempercayai sepenuhnya bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa adalah kekuatan, kekuasaan dan kewenangan tertinggi di seluruh hamparan alam semesta ini. Dalam kepercayaan dan keyakinannya hanya Tuhan Yang Maha Kuasa adalah satu-satunya yang disembah secara tulus dan penuh kepasrahan dan kedamaian.

Kedekatan manusia Indonesia dengan alam semesta dan alam sekitarnya, dapat membentuk dirinya menjadi manusia yang cerdas dan religius. Semakin lengkap isi alam semesta dan alam lingkungan yang dipahami dan diakrabi, akan semakin tinggi tingkat kecerdasan dan religiositasnya. Semakin paham dan akrab dengan misteri alam semesta dan alam lingkungan baik yang kasat mata dan yang tidak kasat mata, maka semakin kuat dan kokoh ketaqwaan dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kondisi ini merupakan modal dasar yang bernilai strategis untuk membangun rakyat, membangun daerah serta membangun bangsa dan negara.

Irama alam, antara lain berada di wilayah tropis dengan irama musim tertentu yang teratur sesuai dengan siklus pergerakan alam dan semesta, dengan berbagai pranata alam serta gerakan dan pergerakan unsur-unsurnya dalam ruang dan waktu yang relatif konstan dan beraturan.

Berbagai kekayaan fauna dan flora serta biota dan renik dalam berbagai spesies yang beraneka ragam, keanekaragaman etnis dengan latar budayanya masing-masing serta pranata sosial budaya dan aspek kehidupan lainnya, akses kosmik dan akses natural yang berlangsung constan dan kontinyu, yang secara kesejarahan dapat menjadi pembentuk watak sebagai bangsa bahari, bangsa yang religius serta mewujudkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang unggul, kuat dan berkepribadian.

Irama alam ini merupakan hal yang ditanggapi secara arif oleh manusia dalam mengarungi dan mempertahankan hidup, kehidupan dan penghidupannya. Kemudian lahirlah konsep dan strategi, pola dan tatanan hidup, hukum, norma dan etika, harmoni dan estetika, adat istiadat, budaya dan peradaban, yang secara keseluruhan berlangsung secara turun temurun, yang pada tingkatan selanjutnya dapat ramuan dalam membentuk watak dan kepribadian bangsa Indonesia.

Irama alam dapat berupa pranata alam seperti siklus musim, orientasi matahari dan planet-planet lainnya, putaran dan kalender waktu serta perhitungan-perhitungan tentang waktu, cuaca dan iklim, tata udara dan tata air, tata bumi, tata antariksa dan pranata alam lainnya, keakraban dengan berbagai bentuk bencana dan lain-lain. Pranata alam ini menjadi pertimbangan utama dalam menentukan berbagai kegiatan hidup, kehidupan dan penghidupan, baik dalam aspek ruang maupun waktu.

Masyarakat dari suku-suku bangsa Indonesia, pada umumnya mempunyai pedoman dan aturan dalam melakukan berbagai kegiatan keseharian yang didasarkan pada perhitungan-perhitungan waktu dan ruangnya. Kegiatan ini tercermin dari adat istiadat dan kegiatan ritual yang diungkapkan dalam upacara-upacara tertentu. Pada pokoknya, maksud dan tujuannya adalah untuk memohon berkah dan berkat serta keselamatan kepeda Tuhan Yang Maha Kuasa. Irama manusia dalam membangun dirinya dan ruang hidupnya merupakan senyawa dengan irama alam, merupakan satu kesatuan utuh dan saling bersinergi dan pengaruh-mempengaruhi.

Pembangunan nasional dan pembangunan daerah

Ditinjau dari pandangan yang realistis, nilai kodrati dan irama alam ini akan selalu melekat dan menyatu dalam keseluruhan proses penyelenggaraan pembangunan nasional dan pembangunan daerah, termasuk dalam pembangunan manusia Indonesia, yang tentu berbeda dengan sistem pembangunan-pembangunan yang dipilih dan ditempuh oleh bangsa-bangsa di negara lain.

Suku-suku bangsa Indonesia memiliki pengalaman dalam menyusun suatu perhitungan-perhitungan pranata alam, sebagai contoh seperti yang tercermin dalam penetapan waktu, cara dan periodisasi dalam kegiatan pertanian dan kehutanan, membangun rumah, menyelenggarakan hajatan dan upacara, kegiatan ritual, kegiatan penebangan pohon dan lain-lain. Secara umum perhitungan siklus alam dirumuskan dalam perhitungan windu atau delapan tahunan, sebagai basis atau patokan waktu dalam melakukan kegiatan apapun.

Selain itu juga diciptakan banyak hasil kebudayaan dan peradaban seperti seni bangunan atau arsitektur, sistem peruangan lingkungan hidup, seni lukis dan ukir, seni suara dan musik dan lain-lainnya. Karya-karya yang dikategorikan karya tradisional ini pada umumnya mempunyai keakraban, keselarasan dan kesesuaian serta keutuhan dengan fungsi alam semesta dan alam lingkungan.

Pembangunan nasional dan pembangunan daerah di Indonesia mempunyai pilihan yang pasti berbeda apabila mengacu pada situasi dan kondisi obyektif wilayah seisinya. Tidak benar bila melakukan replikasi pembangunan di negara lain bahkan juga bila mennggunakan sistem pembangunan yang diterapkan oleh bangsa dan negara dengan sistem yang berbeda atau bertentangan dengan keadaan di Indonesia. Artinya, dalam waktu dekat ini harus dapat dirumuskan suatu sistem pembangunan nasional dan pembangunan daerah yang serba mengandung nilai ke-Indonesia-an atau mengandung nilai yang sarwa Nusantara.

Oleh sebab itu, dalam membangun Indonesia, membangun manusia Indonesia dan membangun daerah, sangat perlu adanya kesadaran dan pemahaman tentang serba keanekaragaman ke-Indonesia-an, yang merupakan ciri khas yang unik dan karakteristik daerah-daerah di seluruh pelosok tanah air Indonesia.

Dengan demikian bangsa Indonesia mempunyai konsep sendiri, strategi sendiri, metode dan cara sendiri, teknik dan teknologi sendiri dalam membangun dirinya dan wilayahnya, tanpa meniru milik bangsa lain. Dengan cara ini pula bangsa Indonesia menjadi bangsa yang realistis dengan tanpa meninggalkan idealismenya dan identitasnya, dalam membangun dirinya dan wilayahnya.

Kondisi dan persyaratan obyektif wilayah Kepulauan Nusantara

Beberapa kondisi dan persyaratan obyektif bagi penyelenggaraan pembangunan nasional dan pembangunan daerah yang terpadu, yaitu:

1. Kondisi obyektif bagi pembangunan wilayah Kepulauan Nusantara antara lain adalah :

  • Wilayah Kepulauan Nusantara berupa hamparan laut luas yang didalamnya terdapat sekitar 18.000 pulau besar dan kecil dengan panjang pantai sekitar 81.000 km, yang merupakan satu kesatuan geopolitik, geostrategis dan geografis serta dalam konsepsi nasional berbangsa dan bernegara merupakan satu kesatuan ideologis, budaya, sosial, politik, ekonomi, hukum dan pertahanan keamanan serta ketahanan nasional.
  • Wilayah Kepulauan Nusantara berada dalam ruang yang menganut kepada akses dan etika keselarasan kosmik dan natural serta lingkungan hidup yang bersifat khas, karakteristik, spesifik dan unik ke-Indonesia-an, dalam kerangka pokok dari etika keselarasan kesemestaan dan kemanusiaan, yang mengacu kepada keseimbangan dan keselarasan proses materialisasi dan spiritualisasi dalam berlangsungnya peri kehidupan yang utuh. Rumus ini sesuai dengan dimensi dan perspektif kemanusiaan yang juga terdiri dari zat material dan zat spiritual dimana keduanya wajib dipelihara dan dibina secara berbarengan dan simultan.
  • Wilayah Kepulauan Nusantara berada pada lintasan antar samudera dan antar benua, dengan demikian mempunyai potensi dan kekuatan yang strategis dalam mengatur, mengarahkan dan mempengaruhi lalu lintas dan pergaulan internasional, antar bangsa dan antar negara, baik di tingkat regional maupun global. Di sisi lain, wilayah Nusantara dapat dipastikan tak akan berhenti dalam mendapat gangguan pihak asing yang berkeinginan untuk menguasai dan mengatur posisi stratrgis tersebut.
  • Wilayah Kepulauan Nusantara mengandung kekayaan sumberdaya alam yang besar dan melimpah tetapi di sisi lain mengandung potensi yang sangat besar untuk terjadi berbagai jenis bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, kekeringan, badai, tanah longsor dan lain-lain.
  • Wilayah Kepulauan Nusantara merupakan suatu refleksi yang nyata dari bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa, ditinjau dari komposisi, konfigurasi dan konstelasi pulau-pulau besar dan kecil, kependudukan yang beraneka ragam etnis, keanekaragaman potensi dan kekayaan sumber daya alam dan mineral baik yang hidup maupun tidak hidup serta keanekaragaman perkembangan situasi dan kondisi lingkungan strategis di sekitar wilayah negara termasuk pula berbagai potensi ancaman, gangguan dan kerawanan sebagai akibat kegiatan alam dan manusia.
  • Wilayah Kepulauan Nusantara menampung penduduk yang besar jumlahnya dan dapat merupakan kekuatan dasar dan utama bagi pembangunan nasional dan pembangunan daerah. Jumlah penduduk yang Sangay besar ini ditempatkan sebagai kekuatan pembangunan dan bukan sebagai beban pembangunan.

2. Persyaratan obyektif untuk bagi pembangunan wilayah Kepulauan Nusantara antara lain adalah:

  • Wilayah Kepulauan Nusantara dipersatukan dan diikat oleh suatu hamparan lautan luas, dalam suatu jejaring sistem wilayah kedaulatan nasional dimana setiap pulau besar ataupun kecil difungsikan sebagai entitas sistem pembangunan nasional yang mempunyai peran tertentu, sesuai kedudukan dan posisi geografis, geopolitik dan geostrategisnya. Dalam sistem kewilayahan tersebut juga dibangun suatu sistem sirkulatori yang mengatur pergerakan dalam upaya mengikat dan menjangkau seluruh pulau besar dan kecil dimanapun berada. Jejaring ini pada tingkat selanjutnya merupakan jejaring pembentuk kekuatan dan ketahanan nasional yang terintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan dan penghidupan berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat.
  • Pembangunan nasional dan pembangunan daerah di Indonesia menganut pembangunan dengan pola bersusun, dimana pola makro kongruen dengan pola mikro, pola mikro merupakan derivasi pola makro dengan segala sifat dan corak gen-nya. Bentuk mikro serupa dengan bentuk makro, yang tidak pernah terlepas dari nilai kodrat dan irama alamnya. Hal yang perla diperhatikan disini hádala bahwa pembangunan daerah tetap berpijak pada karakteristiknya masing-masing sesuai dengan fungsi dan kedudukan daerah dalam struktur geopolitik dan geostrategis, terkait dengan kepentingan makro atau nasional.
  • Pembangunan nasional mendukung pembangunan daerah dan demikian pula sebaliknya, pembangunan daerah mendukung pembangunan nasional. Pembangunan daerah dimanapun merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari pembangunan nasional. Outcomenya hanya satu yaitu kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia dimanapun mereka berada.
  • Sebagai contoh dari gambaran keselarasan nilai dan bentuk makro dan mikro tampak dalam arsitektur cand-candi di Indonesia. Bentuk mikro dari komponen candi serupa dengan bentuk keseluruhan atau makro dari bangunan candi tersebut. Bagian dan bentuk mikro merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bagian makro, bagian mikro merupakan cerminan bagian makro dan demikian pula sebaliknya. Keduanya berwujud sebentuk dan serupa. Bagian mikro memberikan corak, ciri dan citra kepada bentuk dan wujud makro.
  • Demikian pula dalam aspek kemanusiaan, dirumuskan bahwa manusia merupakan mikro kosmos yang menyatu secara selaras dengan alam semesta sebagai makro kosmos. Dalam kehidupan spiritual dinyatakan bahwa manusia Indonesia atau manusia Nusantara menyatu dengan Tuhan Yang Maha Esa, yang lazim dirumuskan dengan sesanti manunggaling kawula lan Gusti, manunggalnya manusia dengan Sang Khalik. Dalam pandangan realistik seperti ini muncul pandangan tentang ukuran-ukuran, dimensi dan skala-skala pembangunan yaitu skala sakral, skala profan dan skala natural. Skala-skala ini merupakan satu kesatuan utuh dan mencerminkan ukuran-ukuran kosmometri, geometri, kulturometri, sosiometri dan antropometri bangsa Indonesia, yang pasti dan tentu berbeda dengan ukuran-ukuran yang dimiliki oleh bangsa lainnya.
  • Pembangunan nasional dan pembangunan daerah merupakan suatu upaya untuk mewujudkan taman sari budaya daerah yang indah dan harmonis dan mencerminkan persatuan dan kesatuan seluruh suku bangsa, yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan proses kesejarahan bangsa Indonesia.
  • Pembangunan nasional dan pembangunan daerah menghindari adanya penyeragaman atau uniformalisasi, dikotomi, diskriminasi dan disintegrasi dalam bentuk, metode dan cara seperti apapun.
  • Pembangunan nasional dan pembangunan daerah menganut hukum, norma dan etika keselarasan ekologi, menganut hukum alam dan kesemestaan, dimana pelestarian lingkungan hidup menjadi hal yang bersifat mutlak untuk diperhatikan dan diperhitungkan.
  • Pembangunan nasional dan pembangunan daerah dengan ciri khas masing-masing untuk menciptakan dan mewujudkan ruang wilayah yang serba prima, yaitu:
  1. Menciptakan dan mewujudkan ruang wilayah lautan, daratan, udara dan antariksa yang seluruhnya terintegrasi dan terorganisasi, dengan fungsi-fungsi budidaya wilayah yang bersifat utama, pendukung, pelengkap dan non budidaya serta yang rawan bencana, yang merupakan jaringan dan jalinan untuk mengatur pergerakan berbagai kegiatan dalam kehidupan penghidupan rakyat, pembangunan baik lintas sektor / sektor serta pembangunan spasial. Disamping itu juga jaringan dan jalinan pergerakan tersebut berfungsi sebagai jaringan dan jalinan penangkal terhadap adanya ancaman, gangguan, intervensi dan subversi baik yang datang dari luar maupun dalam negeri.
  2. Menciptakan dan mewujudkan perangkat-perangkat pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat yang lengkap, memadai, berkemampuan dan bermutu serta sesuai dengan kebutuhan dan keperluan nyata dan obyektif Daerah. Perangkat-perangkat tersebut antara lain adalah tenaga kerja, kelembagaan, dasar hukum, tata laksana dan tata usaha, dana dan keuangan, alat-alat kerja dan teknologi, sistem informasi dan komunikasi dan lain-lain.
  3. Menciptakan dan mewujudkan situasi dan kondisi wilayah dan daerah yang kondusif bagi penyelenggaraan seluruh proses pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat agar secara keseluruhan berlangsung secara aman, lancar, tertib, simultan dan berkesinambungan. Kondusif mengandung arti dan makna tentang suasana yang baik, nyaman, layak, sehat dan hal-hal ini tercermin dalam berbagai kegiatan daerah dan wilayah, termasuk partisipasi masyarakat dan kalangan swasta.
  4. Sebagai muaranya adalah tercipta dan terwujud suatu sistem wilayah nasional yang utuh, kokoh, kuat dan menyatu, dimana daerah merupakan entitasnya, yang menjamin terbentuknya satu kesatuan ideolgi, kesatuan sosial, kesatuan budaya, kesatuan politik, kesatuan ekonomi, kesatuan hukum serta kesatuan keamanan dan ketahanan, dalam wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pusat dan Daerah mewujud dalam satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan, dalam dinamika pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat yang berlangsung secara konvergen, divergen dan kontinyu.

Langkah-langkah strategis yang perlu ditempuh

Langkah-langkah yang bersifat strategis adalah melakukan perubahan visi dan misi pembangunan nasional dan pembangunan daerah yang mengarah kepada sikap dan perilaku yang akrab alam dan akrab manusia. Setiap Daerah baik di tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota serta Pusat, wajib memahami dan mengerti dengan baik dan tepat tentang situasi dan kondisi daerahnya, sehingga secara sadar tahu persis ke arah dan tujuan mana pengelolaan daerahnya.

Beberapa langkah strategis yang perlu ditempuh antara lain :

  1. Menetapkan kebijakan baru berdasarkan paradigma pembangunan berbasis kodrat dan irama alam, yang berlaku secara nasional serta menjamin kepentingan, kesatuan dan keutuhan secara struktural dan fungsional dari pola pembangunan nasional dan daerah. Secara garis besar dinyatakan bahwa kebijakan ini merupakan reorientasi pembangunan berbasis kebenuaan menjadi pembangunan berbasis kelautan dan kepulauan yang didukung secara fungsional dengan pembangunan kemaritiman dan kedirgantaraan.
  2. Menyusun dan menetapkan dasar hukum sebagai pijakan pembangunan nasional dan pembangunan daerah untuk mengatur implementasi kebijakan baru tersebut diatas. Dasar hukum yang disusun bersifat luwes dan akomodatif terhadap adanya keanekaragaman situasi dan kondisi daerah yang bersifat fisik dan non fisik.
  3. Melaksanakan revitalisasi kelembagaan, organisasi dan sumberdaya manusia untuk mendukung pelaksanaan pembangunan nasional dan pembangunan daerah. Penguatan dan revitalisasi tersebut meliputi di tingkat Pusat dan seluruh Daerah, di tingkat Provinsi serta Kabupaten dan Kota.
  4. Melaksanakan revitalisasi data basis, informasi beserta sistemnya tentang situasi dan kondisi seluruh wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Daerah-Daerah. Data basis dan informasi ini disusun secara detil dan akurat, termasuk kondisi geofisika, geokimia dan geologi, dengan berbagai faktor penyebab terjadinya bencana alam dalam bentuk apapun.
  5. Menetapkan sistem teknik dan teknologi pembangunan nasional dan pembangunan daerah yang sesuai dengan situasi dan kondisi wilayah dan Daerah, ditinjau dari kepentingan nasional dan daerah. Penetapan teknik dan teknologi tersebut tidak dapat dilepaskan dari berbagai pranata alam dan pranata sosial yang berlaku secara karakteristik di setiap wilayah dan Daerah.
  6. Mengintensifkan dan menggalakkan kerjasama antar Daerah serta kerjasama Pusat dan Daerah, dalam membangun Daerah dan membangun wilayah, dalam menata ruang dan pembangunan sektoral maupun dalam pembangunan sumberdaya manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: